Evander Noah Haverton mungkin adalah salah satu anak yang beruntung. Terlahir sebagai anak sulung sekaligus cucu pertama dalam keluarga besar Haverton, Evan tumbuh dikelilingi oleh cinta dan kasih sayang yang tak pernah putus—dari papa yang bijaksana, mama yang penuh perhatian, hingga oma dan opa, grandpop dan gemimi yang selalu bangga menyebut namanya di setiap kesempatan berkumpulnya keluarga besar mereka. Namun, kondisi “istimewa” itu tidak pernah membuat Evan menjadi pribadi yang manja atau merasa besar kepala. Justru, ia tumbuh dengan sifat sopan, welas asih, bertanggung jawab, dan selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri.
Sebagai sulung dari empat bersaudara, Evan punya tiga adik yang sangat dekat dengannya. Sejak kecil, ia sudah terbiasa membantu mamanya menjaga adiknya yang rewel ketika mama sedang sibuk berjaga di toko, menenangkan ketika ada yang menangis tengah malam, dan berdiri di depan adik-adiknya kalau salah satunya sedang dimarahi papa ataupun mama. Bahkan saat usianya masih belasan tahun, Evan sudah terlihat seperti orang yang dewasa sebelum waktunya. Membuat ketiga adiknya lebih dekat dengan Evan daripada kedua orang tuanya.
Evan sangat menyayangi ketiga adiknya. Ia selalu meluangkan waktu untuk mereka, bagaimana pun kondisinya. Entah itu menemani belajar, mengantar ke tempat les, atau sekadar duduk bareng di sofa sambil mendengarkan keluhan mereka. Ada masa di mana Gianni akan mengeluh soal pekerjaannya, atau saat Grithe tidak suka bagaimana ia selalu dipaksa untuk melakukan sesuatu, atau Eki yang memilih untuk mengambil jurusan kuliah yang diinginkannya walaupun kedua orang tuanya tidak menyetujui itu. Evan akan selalu hadir di tengah-tengah mereka, menjadi pendengar untuk adik-adiknya.
Setelah lulus dengan predikat cumlaude dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Evan melanjutkan pendidikan ke University of British Columbia, Kanada, mengambil program LLM (Master of Law). Awalnya, adaptasi bukan hal mudah—logat setengah Kanada setengah British yang membuatnya kesulitan berkomunikasi, lingkungan kampus yang bergerak serba cepat, dan udara dingin yang menusuk saat salju turun. Namun, Evan menjalani semuanya dengan tenang. Ia tidak banyak mengeluh, bertekad lulus tepat waktu dan pulang ke Indonesia untuk berkumpul kembali bersama keluarganya.
Sekembalinya ke tanah air, Evan mengikuti serangkaian tes yang akhirnya berhasil mengantarkan ia bekerja di Kejaksaan Agung. Kini ia menjalani kehidupan sebagai jaksa muda—pekerjaan yang ia lakoni dengan prinsip yang sama seperti ia menjalani hal-hal mendasar dalam hidupnya.
PROFILE
FACE CLAIM
| Name | Evander Noah Haverton |
|---|---|
| Nickname | Evan, Noah |
| Gender | Male |
| DOB | Jakarta, 8th of April 1994 |
| Blood type | AB+ |
| Height, weight | 180cm, 63kg |
| Occupation | Prosecutor |
| Name | Jin Young |
|---|---|
| Birth Name | Park Jin-Young (박진영) |
| Born | September 22, 1994 |
| Birthplace | Changwon, South Korea |
| jinyoung_0922jy | |
| For More | https://en.wikipedia.org/wiki/Jinyoung_(entertainer,_born_1994) |
CATATAN PENULIS
Original Character
Multiple Universes
Semi-descriptive Roleplay
Writing Style: