Dulu aku pikir jatuh cinta itu ya... rasanya bakal biasa aja. Rasanya mungkin kayak pas ketemu guru yang paling aku kagumi, atau pas pertama kali nonton Graham Nash secara langsung, atau saat malam-malam denger suara alunan piano tua milik Papa yang selalu bikin tenang, atau mungkin seperti melihat anjingku berlarian karena senang diajak main seharian. Rasanya hangat, familiar. Tapi nggak pernah sampai bikin aku mikir tentang seseorang terus-terusan. Nggak pernah sampai bikin aku penasaran pengen tahu dia lebih dalam.
Bukan karena aku nggak pernah disayang atau nggak tahu rasanya dekat sama orang. Aku tumbuh di keluarga yang penuh perhatian. Aku punya teman-teman yang selalu ada. Tapi soal perasaan romantis, aku nggak pernah benar-benar tahu rasanya. Sampai suatu hari, di musim gugur, di Vancouver, saat pesta Halloween, semuanya berubah.
Waktu itu aku lagi ngobrol sama beberapa orang, dan dari kejauhan aku ngelihat seseorang yang lagi tertawa bareng temen-temennya. Nggak ada hal aneh yang terjadi. Dia nggak ngelakuin hal spesial. Tapi entah kenapa, aku kayak terdiam beberapa detik. Rasanya… adem. Tenang. Kayak ada sesuatu di dalam diriku yang bilang, “Lihat dia sebentar lagi.” Dan sejak saat itu, aku nggak bisa berhenti memperhatikannya.
Bukan cuma karena dia menarik. Tapi karena aku pengen tahu siapa dia, apa yang dia suka, gimana cara dia ngelihat dunia. Dan ketika akhirnya kami mulai ngobrol dan saling mengenal, rasanya menyenangkan banget. Bukan yang bikin jantung deg-degan terus, tapi lebih ke nyaman. Kayak pulang. Aku nggak cuma pengen dekat, aku pengen jadi versi terbaik dari diriku buat dia. Pengen bisa kasih cerita yang bahagia, kasih hidup yang layak buat dijalanin berdua. Dan aku gak pernah ngerasain kayak gini sebelumnya.
Dan di situ aku sadar, ternyata jatuh cinta itu nggak serumit yang orang-orang bilang. Nggak juga sesederhana yang dulu aku kira. Tapi yang jelas: menyenangkan. Kamu nggak tahu akan ke mana hubungan itu membawa kalian, tapi kamu tahu kamu pengen jalanin semuanya bareng dia. Ada harapan, ada semangat, ada alasan untuk bangun pagi dan jadi lebih baik dari kemarin.
Menurutku, cinta itu sering datang di saat yang nggak terduga. Kadang muncul begitu saja—bukan karena kamu nyari, tapi karena hatimu memang siap ngerasain lagi. Tapi datangnya yang tiba-tiba nggak berarti kamu harus takut atau mundur. Kadang kamu cuma butuh waktu lebih lama buat yakin, dan itu nggak apa-apa. Pelan-pelan juga tetap berprogres namanya.
Waktu kamu ketemu orang yang tepat, semuanya terasa beda. Bukan karena semuanya jadi mudah, tapi karena kamu tahu kamu pengen tetap jalaninnya, meski nggak selalu mulus. Rasanya tenang. Rasanya cukup. Kamu jadi pengen berbagi, pengen tahu, pengen tumbuh bareng.
Dan yang paling penting: kamu pantas buat ngerasain itu. Siapa pun kamu, sesulit apa pun masa lalu kamu, kamu tetap layak dicintai dan mencintai balik. Cinta bukan tentang sempurna, tapi tentang menjalankan semua hal itu sebaik-baiknya.