
REGULATIONS:
https://x.com/GRlMSHORE/status/1951862309435171299
Kalau harus milih satu pengalaman paling berkesan dalam hidupku, mungkin aku akan ceritain tentang hari pertama aku ketemu Saveira.
Waktu itu, aku belum ngerti dan belum pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta. Aku tumbuh di keluarga yang hangat, penuh kasih sayang. Dan itu cukup, rasanya. Aku gak pernah nyari atau penasaran soal cinta dalam bentuk yang romantis. Aku ngerasa perasaan dicintai itu udah cukup lewat kehadiran orang-orang di sekitarku. Keluargaku, teman-temanku.
Tapi semua berubah pas aku pindah ke Vancouver buat lanjut studi. Jauh dari rumah, dari adik-adik, dari suasana yang hangat dan familiar. Ada teman, iya. Tapi tetap ada ruang kosong yang gak bisa diisi siapa pun. Kadang aku video call sama Mama Papa, atau sekadar dengerin suara adik-adik cerita ini itu. Tapi tetap aja, ada hari-hari di mana sepi itu lebih kerasa dari biasanya.
Sampai suatu malam, pas Halloween, ada acara kecil di deket kampus. Aku ikut, ngobrol sama beberapa teman. Suasananya rame, tapi biasa aja. Sampai tiba-tiba, suara denting pintu bikin aku noleh. Seorang perempuan masuk, pakai dress hitam, datang bareng teman-temannya. Dan entah kenapa, mataku gak bisa lepas dari dia.
Cantik, iya. Tapi bukan itu yang bikin aku tertarik. Cara dia senyum, cara dia dengerin orang lain, cara dia bawa dirinya—semuanya kelihatan tenang. Teduh. Ada sesuatu yang bikin aku pengen kenal lebih jauh. Jadi ya, dengan semua keberanian yang aku punya malam itu, aku samperin dia. Ajak kenalan. Dan ternyata… dia juga orang Indonesia. Bahkan rumahnya gak jauh dari rumahku di Jakarta.
Dari situ, semuanya jalan perlahan. Gak ada drama. Gak ada gombal. Cuma dua orang yang pelan-pelan jadi dekat lewat obrolan, ketemuan, dan rasa nyaman yang tumbuh setiap hari. Aku sempat cerita ke adikku tentang ini, dan dia cuma ketawa sambil bilang, “Yap, itu namanya jatuh cinta.”
Setelah hampir setahun kenal, baru aku ajak dia jadian. Sebelumnya aku udah bilang kalau aku tertarik, tapi aku sempat takut. Takut kalau perasaanku salah. Takut belum siap. Ini kali pertama aku ngerasain hal kayak gini, dan jujur aja, semua rasanya asing.
Tapi sama Saveira, semua yang asing jadi menyenangkan. Pelan-pelan aku belajar kalau cinta itu bukan tentang hal besar. Tapi tentang hadir. Tentang dengerin. Tentang tumbuh sama-sama.
Dan mungkin, itu awal dari banyak hal yang berubah dalam hidupku.